Kamis, 22 Maret 2012

PEMAKAIAN HURUF (2)


F. Huruf Kapital
1.
Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:
Dia membaca buku.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.
2.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:
Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
Orang itu menasihati anaknya, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Kemarin engkau terlambat," katanya.
"Besok pagi," kata Ibu, "dia akan berangkat."
3.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:
Islam
Quran
Kristen
Alkitab
Hindu
Weda
Allah
Yang Mahakuasa
Yang Maha Pengasih
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.


Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.


Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim

b.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.


Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Pada tahun ini dia pergi naik haji.
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.
5.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.


Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Jawa Tengah

b.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.


Misalnya:
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.

c.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.


Misalnya:
Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.
6.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.


Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere


Catatan:


(1)
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).


Misalnya:
J.J de Hollander
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen
Otto von Bismarck
Vasco da Gama

(2)
Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.


Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Ibrahim bin Adham
Siti Fatimah binti Salim
Zaitun binti Zainal


b.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:
pascal second
Pas
J/K atau JK-1
joule per Kelvin
N
Newton

c.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
7.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.


Misalnya:
bangsa Eskimo
suku Sunda
bahasa Indonesia

b.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.


Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
8.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.


Misalnya:
tahun Hijriah
tarikh Masehi
bulan Agustus
bulan Maulid
hari Jumat
hari Galungan
hari Lebaran
hari Natal

b.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.



Misalnya:
Perang Candu
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

c.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.


Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi.


Misalnya:
Banyuwangi
Asia Tenggara
Cirebon
Amerika Serikat
Eropa
Jawa Barat

b.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.


Misalnya:
Bukit Barisan
Danau Toba
Dataran Tinggi Dieng
Gunung Semeru
Jalan Diponegoro
Jazirah Arab
Ngarai Sianok
Lembah Baliem
Selat Lombok
Pegunungan Jayawijaya
Sungai Musi
Tanjung Harapan
Teluk Benggala
Terusan Suez

c.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.


Misalnya:
ukiran Jepara
pempek Palembang
tari Melayu
sarung Mandar
asinan Bogor
sate Mak Ajad

d.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.


Misalnya:
berlayar ke teluk
mandi di sungai
menyeberangi selat
berenang di danau

e.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.


Misalnya:
nangka belanda
kunci inggris
petai cina
pisang ambon
10.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.


Misalnya:



Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

b.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.


Misalnya:
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menjadi sebuah republik
menurut undang-undang yang berlaku


Catatan:
Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.


Misalnya:
Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.
Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.
Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.
11.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.

Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan
12.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
13.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.

Misalnya:
Dr.
doktor
S.E.
sarjana ekonomi
S.H.
sarjana hukum
S.S.
sarjana sastra
S.Kp.
sarjana keperawatan
M.A.
master of arts
M.Hum.
magister humaniora
Prof.
profesor
K.H.
kiai haji
Tn.
tuan


Ny.
nyonya
Sdr.
saudara

Catatan:
Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.
14.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.


Misalnya:
Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"
Besok Paman akan datang.
Surat Saudara sudah saya terima.
"Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.
"Silakan duduk, Dik!" kata orang itu.

b.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.


Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.
15.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.

Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima dengan baik.
16.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada I B, I C, I E, dan II F15).

PEMAKAIAN HURUF (1)


A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di kolom ketiga.
Huruf
Nama
Kapital
Kecil
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
u
v
w
x
y
z
a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
je
ka
el
em
en
o
pe
ki
er
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet
B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.
Huruf
Vokal
Contoh Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
a
e*

i
o
u
api
enak
emas
itu
oleh
ulang
padi
petak
kena
simpan
kota
bumi
lusa
sore
tipe
murni
radio
ibu
Keterangan:
*
Untuk keperluan pelafalan kata yang benar, tanda aksen (') dapat digunakan jika ejaan kata menimbulkan keraguan.

Misalnya:

Anak-anak bermain di teras (téras).

Upacara itu dihadiri pejabat teras Bank Indonesia.

Kami menonton film seri (séri).

Pertandingan itu berakhir seri.

Di mana kécap itu dibuat?

Coba kecap dulu makanan itu.
C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf
Konsonan
Contoh Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
b
c
d
f
g
h
j
k

l
m
n
p
q**
r
s
t
v
w
x**
y
z
bahasa
cakap
dua
fakir
guna
hari
jalan
kami
-
lekas
maka
nama
pasang
Quran
raih
sampai
tali
varia
wanita
xerox
yakin
zeni
sebut
kaca
ada
kafan
tiga
saham
manja
paksa
rakyat*
alas
kami
tanah
apa
status quo
bara
asli
mata
lava
hawa
-
payung
lazim
adab
-
Abad
maaf
gudeg
tuah
mikraj
politik
bapak*
akal
diam
daun
siap
Taufiq
putar
tangkas
rapat
-
-
sinar-x
-
juz
Keterangan:
*
Huruf k melambangkan bunyi hamzah.
**
Huruf q dan x khusus dipakai untuk nama diri (seperti Taufiq dan Xerox) dan keperluan ilmu (seperti status quo dan sinar x).
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.
Huruf
Diftong
Contoh Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
ai
au
oi
ain
aula
-
malaikat
saudara
boikot
pandai
harimau
amboi
E. Gabungan Huruf Konsonan
Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing masing melambangkan satu bunyi konsonan.
Gabungan
Huruf
Konsonan
Contoh Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
kh
ng
ny
sy
khusus
ngilu
nyata
syarat
akhir
bangun
banyak
isyarat
tarikh
senang
-
arasy
Catatan:
Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain ditulis sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.

Selasa, 25 Oktober 2011

Di Balik Bahasa Indonesia

Sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, mau tidak mau, suka tidak suka, semua warga negara Indonesia harus bangga berbahasa Indonesia. Karena bila tidak kita sebagai warganya, lalu siapa lagi?

Sedangkan Malaysia sudah membeli EYD yang sudah tidak kita gunakan lagi. Oleh karena itu, jangan pernah terkejut bila suatu hari nanti bahasa Malaysia sama dengan bahasa Indonesia. Belum lagi Jepang yang sejak 1967 telah membuka jurusan bahasa dan sastra Indonesia di salah satu perguruan tinggi tertuanya. Bahkan di Australia, bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib dari kelas 1-12. Keberadaan bahasa Indonesia di sana sama dengan bahasa Inggris di Indonesia. Di Oslo pun telah lama dibuka kursus bahasa Indonesia. Mereka mendatangkan narasumber asli dari Indonesia. Belum lagi Belanda, Amerika, Jerman, Suriname.

 Pada dasarnya kebudayaan Indonesialah yang membuat mereka begitu kagum sehingga ingin mempelajari, salah satunya bahasanya. Ayolah para generasi muda. Keberadaan bahasa Indonesia di masa yang akan datang ada di tangan kita.

Bahasa Indonesia (Matakuliah Pengembangan Kepribadian)

SILABUS

1. Identitas Matakuliah
Nama Matakuliah                 : Bahasa Indonesia
Kode Matakuliah                 : IA.101
Bobot SKS                          : 2 SKS
Semester/Jenjang                  : I/ S-1
Kelompok Matakuliah          : MPK
Jurusan/Program Studi          : Semua Jurusan
Status Matakuliah                 : Wajib Tempuh
Prasayarat                            : -
Dosen/Kode Dosen              : Indrya Mulyaningsih, M.Pd./ 187

2. Tujuan
Matakuliah ini bertujuan memberi pengetahuan dasar kepada mahasiswa sehingga menjadi ilmuwan dan profesional yang memiliki pengetahuan dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional dan mampu menggunakannya secara baik dan benar untuk mengungkapkan pemahaman, rasa kebangsaan dan cinta tanah air, dan untuk berbagai keperluan dalam bidang ilmu, teknologi, dan seni, serta profesinya masing-masing.
3. Deskripsi Matakuliah
Matakuliah Bahasa Indonesia, kode IA.101, bobot 2 SKS, merupakan matakuliah umum yang ditujukan untuk mengembangkan aspek kepribadian mahasiswa sebagai individu dan warga masyarakat. Matakuliah ini wajib diikuti oleh semua Program Studi. Substansi matakuliah ini difokuskan pada menulis akademik yang meliputi berikut ini.
a.    Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, terdiri atas: 1) sejarah bahasa Indonesia, 2) bahasa negara, 3) bahasa persatuan, 4) bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta 5) fungsi dan peran bahasa Indonesia dalam pembangunan bangsa.
b.    Peningkatan keterampilan berbahasa, terdiri atas: 1) keterampilan membaca, 2) keterampilan menulis, 3) keterampilan berbicara, dan 4) keterampilan menyimak.
c.    Ragam bahasa Indonesia.
d.    Kalimat efektif.
e.    Pengembangan paragraf
f.     Pengertian karya tulis ilmiah
g.    Teknik menulis makalah.
h.    Penulisan resensi.
i.      Penulisan kajian pustaka.
j.      Apresiasi karya sastra.

Adapun indikator keberhasilan perkuliahan ini terkumpul sejumlah tulisan dalam portofolio mahasiswa mengenai: 1) makalah seluruh submatakuliah bahasa Indonesia, 2) pengembangan paragaf narasi berdasarkan pengamatan perekonomian di Indonesia, 3) pengembangan paragraf persuasi melalui resensi buku yang berhubungan dengan ekonomi syariah, dan 4) sejumlah artikel hasil karya mahasiswa yang dipublikasikan ke media–massa dan dijadikan buku kumpulan para mahasiswa per kelas. Butir 1 merupakan tugas mingguan yang didokumentasikan dalam portofolio mahasiswa hasil kolaborasi dan sharing dengan teman kelompok/dosen atau para penulis/pengarang produktif. Sedangkan butir 2-4 ditulis terpisah sesuai dengan kesepakatan bersama. Produksi menulis akan dijadikan karya monumental. Apabila para mahasiswa mempunyai dana dapat diterbitkan sesuai dengan kemampuan mereka. Pelaksanaan kuliah menggunakan pendekatan proses, ekspositori, tindakan kelas, copy the master dan CTL dalam bentuk ceramah,diskusi, tanya jawab, pemecahan masalah dilanjutkan dengan kegiatan praktik menulis dalam portofolio, kolaborasi, sharing dengan teman kelompok, dosen, dan refleksi. Untuk mengetahui tingkat penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan dilakukan evaluasi proses melalui asesmen portofolio dan evaluasi produk melalui UTS dan UAS.

Buku yang menjadi referensi meliputi: Pokoknya Menulis Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi, Bandung: PT Kiblat Buku Utama. Alwasilah, A.Chaedar Alwasilah dan Senny Suzanna. 2005. Menulis dengan Emosi Panduan Empatik Mengarang Fiksi. Bird, Carmel: Bandung: Kaifa. 2001. Mengikat Makna, Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Hernowo. Bandung: Kaifa. 2001. Lincah Menulis Pandai Bicara. M.Romli, Asep Syamsul. Bandung: Nuansa Cendikia. 2003. Kiat Menulis Artikel di Media dari Pemula sampai Mahir. Hakim, M.Arief. Bandung: Nuansa. 2004. Menulis Secara Populer. Marahimin, Ismail. Jakarta: Pustaka Jaya. 1994. Gairah Menulis.Writing. Panduan Menerbitkan Buku untuk Penulis Pemula. Hs.Lasa. Yogyakarta. Alinea. 2005.

4. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan             : Pendekatan Proses, Ekspositori, Copy the master, CTL
Metode                   : Ceramah, tanya jawab, diskusi, kolaborasi, pemecahan
masalah.
Tugas                      : Laporan buku wajib, makalah, artikel, dan seminar kelas.
Media                     : Portofolio, fotokopi dokumen otentik dari berbagai sumber,
  dan OHP, LCD/Power Point

5. Evaluasi
a. Kehadiran
b. Laporan Buku
c. Makalah
d. Artikel
e. Penyajian dan diskusi
f. UTS
g. UAS

Satuan Acara Perkuliahan Analisis Wacana

MATA KULIAH : Analisis Wacana
KODE MATA KULIAH :
SKS : 2 SKS
PRASYARAT : -
DOSEN : Indrya Mulyaningsih, M.Pd.
JURUSAN\PRODI : Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
BUKU SUMBER : 1. G. Tarigan, H. 1993. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
2. Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
3. Praptomo Baryadi, I. 2002. Dasar-dasar Analisis Wacana dan Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Gondhosuli.

TATAP MUKA KE MATERI MATA KULIAH Tujuan khusus pembelajaran Metode model pembelajaran Media pembelajaran Tugas-tugas Buku sumber/referensi
Pokok
bahasan Sub pokok bahasan
1 1. Hakikat wacana 1. Pengertian wacana



2. Struktur Wacana
a. Unsur internal wacana


b. Unsur eksternal wacana Mahasiswa dapat menjelaskan istilah wacana


Mahasiswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur internal wacana


Mahasiswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur eksternal wacana Ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan

Ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan

Ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan
Transparan ,OHP,Lap top,LCD


Transparan ,OHP,Lap top,LCD


Transparan ,OHP,Lap top,LCD
Membaca buku sumber Latihan soal-soal


• Pengajaran Wacana.
• Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana.
• Dasar-dasar Analisis Wacana dan Ilmu Bahasa.
2 1. Keutuhan wacana

1. Kohesi




2. Koherensi

Mahasiswa dapat menjelaskan aspek kohesi


Mahasiswa dapat menjelaskan aspek koherensi
Ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan

Ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan
Transparan ,OHP,Lap top,LCD


Transparan ,OHP,Lap top,LCD

Membaca buku sumber Latihan soal-soal • Pengajaran Wacana.
• Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana.

Draft Matakuliah Pengembangan Kepribadian Bahasa Indonesia

Berikut ini draft matakuliah pengembangan kepribadian bahasa Indonesia di IAIN Syekh Nurjati Cirecon. Draft ini berlaku untuk tahun ajaran 2011/2012.
1. Kedudukan bahasa Indonesia
2. Peningkatan keterampilan berbahasa
3. Ragam bahasa
4. Kalimat efektif
5. Paragraf
6. Karya ilmiah
7. Makalah
8. Resensi
9. Kajian pustaka
10. Proposal penelitian
11. Apresiasi karya sastra

Dalam waktu dekat akan segera diterbitkan bukunya. Semoga bermanfaat.